Banyu
cik, cik gemericik'e banyu
ngilikake aku wayah isih cilik
nalika mangsa ketiga
ora ana tetesi banyu kang netesing bumi
panase srengenge kanthi netesake peluh
lan ora ana tuyo setitikpun'
aku ngarepake mangsa rendheng kang teka
lan ngarepake rencangku tiba
aku ngelamun sedinoan
lan mondar mandir ing latar
ngenteni udan utawa banyu nelesi bumi
lan nagarepake keajaiban kang tiba
isih suwi aku ngenteni
tiba - tiba keajaiban teka
udan deres ngguyur bumi
lan rencang lanangku tiba
atiku bungah banget
amarga udan deres kang teka
lan rencang lanangku nyataake tresnane
ohhh..
senenge aku dina iku
yand' blog
Selasa, 10 Agustus 2010
Sahabatku… oh Sahabatku….
Kedatangan Burung-burung itu sedikit memberikan suasana berbeda di rumah ini, maklum saja hari-hari sebelumnya tidak pernah ada terdengar kicauan burung yang berani hinggap didahan pohon didepan rumah ini, karena Alya tidak senang dengan kicauan burung-burung itu, baginya melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, lebih asyik ditemani lagu-lagu mellow kesayangannya, walau terkadang yang dimasak adalah makanan favoritku, dan yang dicuci pun adalah pakaian ku, sambil ikut benyanyi tentunya tanpa menghiraukan aku yang merasa terganggu pada suaranya yang aku anggap lebih mirip penyanyi seriosa. Namun entah mengapa saat ini aku merasa kehilangan Alya dirumah ini, tak ada lagi Alya ceria yang kukenal, sejujurnya walau aku terkadang merasa terganggu pada suara Alya saat bernyanyi, tapi entah mengapa aku merindukannya, merindukan dia yang dulu...dengan segala celotehnya yang selalu mengundang tawa ku dirumah ini. Kupandangi Alya yang saat itu duduk bermenung diberanda rumah, sudah dua minggu terakhir ini aku sering mendapatinya duduk dengan tatapan kosong sambil menangis, entah mengapa dan apa yang terjadi padanya aku benar-benar tak tahu. Sudah berulang kali aku berusaha untuk menanyakan masalahnya namun berulang kali pula Alya bungkam. Namun yang membuat aku semakin heran walaupun dia sedang ada masalah dia tidak pernah lupa padaku,
“ wa, udah makan, wa gimana pelajarannya,” ungkapan perhatiannya setiap hari kudengar
Sampai pada suatu malam dia membangunkanku dan menceritakan segala kesedihannya yakni tentang Wahdi , pria yang selama ini selalu ada untuknya, bahkan telah mengungkapkan keinginan untuk melamarnya, tiba-tiba saja harus pergi meninggalkannya, aku melihat ada semangat tersendiri yang ia dapat dari Wahdi, namun Wahdi mengambil suatu keputusan untuk tidak berhubungan lagi dengannya dan mengurunkan niatnya untuk melamar Alya,
“ Wahdi, tau semua semua wa, aku gak tahu mau gimana, dia tahu semua cerita tentang keluargaku.” Ungkapnya.
Akupun tersentak,karena aku tahu ada banyak cobaan hidup yang dialami Alya selama ini tentang ibunya yang berubah seratus delapan puluh derajat dari ibunya yang dulu, ibunya lebih memilih untuk nikah lagi dengan seorang pria yang umurnya pun seumuran Alya, semua peninggalan ayahnya habis tanpa sisa karena pria itu, apa ada ibu seperti itu...namun itulah kenyataannya, Alya lebih memilih untuk minggat dari rumah itu, karena dia tidak bisa melihat sosok anak ingusan itu menjadi pengganti ayahnya, ditambah lagi dua adik perempuannya yang dahulu lebih memilih untuk tinggal dengan ibunya harus menanggung malu menjadi ibu muda akibat pergaulan bebas mereka selama ini, hancur sudah masa depan kedua adiknya, aku tahu bagaimana dulunya Alya meyakinkan kedua adiknya untuk tinggal bersamanya di rumah ini, dan meyakinkan mereka jika Alya sanggup membiayai mereka. Namun apalagi hendak dikata semua sudah terlanjur terjadi,ibu dan adiknya terlanjur mendapatkan predikat buruk dilingkungan rumahnya, dan Alya adalah seorang gadis tegar yang pernah kukenal, dibalik keceriaannya selama ini terdapat cobaan berat yang harus dipikulnya sendiri. Aku tak bisa membayangkan andai ini terjadi padaku, karena aku tahu betul siapa aku, sedikit masalah saja sudah membuat ku merasa sebagai makhluk tuhan paling sexy dia muka bumi ini, eh...makhluk tuhan paling sedih masksudnya.
Sebenarnya tak ada keinginan Alya untuk menutupi semua aib ini dari Wahdi, hanya saja Alya ingin mencari waktu yang pas untuk bercerita soal ini ke Wahdi, maklum saja sebelum Wahdi ada beberapa pria yang pernah menaruh hati padanya namun kesemuanya mundur teratur saat Alya bercerita soal latar belakang keluarganya, dan ternyata Wahdi juga seorang pria yang jelas-jelas mundur dari Alya, dia tidak menginginkan seorang gadis dari latar belakang seburuk itu, aku diam dan menahan air mataku yang hampir jatuh dihadapannya. Begitu berat cobaan yang ia hadapi, Namun sebagai temannya aku berusaha menguatkan hatinya, dan memberi semangat lagi padanya, kuyakinkan dia bahwa itu mungkin yang terbaik buatnya, ada hikmah dibalik ini semua dan pasti tuhan punya rencana lain untuknya, yah kurang lebih aku kelihatan seperti seorang motivator handal dihadapannya, walau aku yakin-seyakin yakinnya, toh aku juga tak mungkin bisa seperti yang aku katakan.
“ Ayolah Alya, ngapain nangis masalah yang semalam-semalam gak pernah ditangisin seperti ini, “ Ungkapku.
Walau aku tahu ada batasnya seorang gadis biasa itu tegar, dan adakalanya dia mungkin tidak kuat lagi untuk menanggung kesedihan yang ia hadapi, tapi...akh...aku tak bisa menunjukkan kesedihan ku padanya.
Semenjak dia melimpahkan segala beban yang ada dipikirannya kepadaku, dia kembali seperti Alya yang kukenal dulu, walau terkadang aku melihat dia sedikit agak menutup diri dengan pria yang berusaha mendekatinya,pernah aku berfikir untuk menjodohkannya dengan sepupuku tapi aku juga tidak bisa menjamin si sepupuku ini bisa menerima dia apa adanya, entahlah aku pun tak bisa berbuat apa-apa untuk dia, tapi entah mengapa aku tetap ingin tahu semua tentang sahabatku yang satu ini karena aku terlanjur sayang padanya dan akupun sudah terlanjur menganggapnya seperti kakakku sendiri, karena selama dirumah ini dialah orang yang selalu ada buatku, dan aku tahu persis kebaikan hatinya padaku, bagaimana ia memperlakukanku seperti adiknya sendiri,
Sekarang dia lebih banyak menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya sebagai advisor di sebuah perusahaan yang bonafit, dan sibuk dengan LSM nya, yah....semenjak kejadian itu aku melihat dia berusaha penuh menyibukkan hari-harinya dengan bekerja dan dan mendedikasikan dirinya di LSM yang banyak membantu anak-anak pengemis untuk bersekolah, yah..sebuah pekerjaan yang mulia tentunya, hampir tidak ada waktunya untuk sekedar duduk-duduk lagi paling tidak diberanda rumah, tak jarang kulihat pekerjaan kantornya pun ia bawa ke rumah, padahal dulu pantang baginya untuk membawa sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan kerumah.
Hingga suatu ketika, Alya bercerita padaku tentang seorang pria yang berusaha mendekatinya, pria itu bernama Azis bekerja sebagai sekaligus pimpinan di LSM tempatnya mendedikasikan diri, namun sepertinya tetap saja dia tidak mengiraukannya,walau aku mengungkapkan keinginanku agar dia kembali membuka hati bagi orang lain, tapi sepertinya dia terlanjur trauma pada kisah-kisahnya terdahulu, seiring waktu akhirnya akupun mengenal Azis karena ia sering bermain kerumah sekedar bertatakrama dengan Alya, entah karena aku begitu perhatian pada Alya atau mungkin karena aku takut hatinya tersakiti lagi, membuat aku ingin tahu siapa Azis itu sebenarnya,bagaimana dia, namun tanpa aku harus berusaha mendekati dia, ternyata dia juga berusaha mendekatiku, dia menanyakan semua tentang Alya kepadaku...dan akupun ingin tahu apakah dia sungguh-sungguh pada Alya, akhirnya kuputuskan untuk menceritakan semua tentang Alya padanya termasuk masalah keluarganya, aku melihat Azis kaget dan tidak pernah menyangka Alya punya keluarga seperti itu, namun kudapati jawaban dari Azis
“O, jadi itu masalahnya kenapa selama ini Alya selau menghindar jika aku berusaha dekat dengannya, jujur aku gak peduli wa dengan semua itu, apapun masa lalu Alya dan bagaimanapun buruknya, toh yang aku tahu Alya gadis yang baik dan mandiri. “
Sungguh lega rasanya mendapat jawaban seperti itu, sikap Azis mengingatkanku pada sebuah lirik lagu dangdut terkenal yang bunyinya kurang lebih seperti ini “Tidak semua..laki-laki....i....”eh,,,,stop koq aku malah olah vokal.
Sebenarnya Alya pun menaruh hati padanya,bagaimana tidak Azis adalah seorang pria mapan, dan tahu betul soal agama, dia menyenangkan dan baik...itulah yang kutahu dari Alya. Akhirnya aku yakin pada Azis dan secara perlahan menceritakan soal ini kepada Alya. Alya pun kaget dan tidak menyangka aku bertindak sejauh ini untuknya,
“Apa-apaan sih wa, ngapain coba kamu harus ngelakuin itu semua”
Akupun berusaha meledeknya “hmm,,,benar nih gak mau diurusin, senang ajah udah,, ada pelangi tuh dimatamu Al, “. Kataku meledeknya
Alya pun berlari mengejarku dan kudapati kembali tawanya yang hampir hilang, sekarang semuanya sudah terjawab dengan jawaban yang begitu manis. Benar dugaanku selama ini, ada rahasia indah untuk Alya, untuk seorang gadis yang selalu berusaha tegar ditengah rumitnya permasalahan hidup.
Hari ini aku melihat Alya meraih kebahagiannya dengan seorang pria kiriman tuhan, aku yakin ini pria pilihan buat Alya, dan aku tidak pernah menyangka ternyata Azis juga merangkul ibu Alya yang datang memohon untuk diterima lagi oleh Alya, Alya menerima ibunya kembali karena dia sadar setebal apapun kekesalannya pada ibunya, sebesar apapun kekecawaannya, toh wanita yang hampir tua renta itu adalah orang yang pernah melahirkannya kebumi ini,dan soal pertalian darah adalah soal yang penting untuk terus dijaga, kali ini aku benar-benar mendapatkan pelajaran berharga lagi, bahagia jika bisa tulus untuk menerima seseorang apa adanya, dan berusaha memaafkan kesalahan orang lain walau sepahit apapun itu,karena tiada daya kita untuk tidak saling memaafkan ...toh Tuhan saja Maha pengasih, dan maha pemberi maaf...kenapa kita yang manusia biasa saja terkadang sulit untuk melakukan itu semua.......
Sekarang Alya bahagia dengan kehidupannya, tinggal di sebuah rumah yg mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, Azis benar-benar memberikan kebahagiaan buat Alya dan keluarganya.
tapi sekarang, disini, dirumah mini ini, cuma ada aku, sebenarnya sih Alya juga sudah mengajakku untuk tinggal bersama-sama dengannya, Azis dan ibunya... tapi tidak, cukuplah sudah Aku bergantung pada Alya selama ini, aku juga ingin mandiri seperti Alya , dan berusaha bisa kuat menjalani semua tanpa Alya, tapi mohon maaf dulu nih tetap saja harus ada kawan lain buat aku dirumah ini, soalnya aku juga gak berani jika harus tidur sendirian apalagi harus memasak-masakan ku sendiri, paling tidak aku bisa dapat teman pengganti seperti Alya lah...hahahahaha
“ wa, udah makan, wa gimana pelajarannya,” ungkapan perhatiannya setiap hari kudengar
Sampai pada suatu malam dia membangunkanku dan menceritakan segala kesedihannya yakni tentang Wahdi , pria yang selama ini selalu ada untuknya, bahkan telah mengungkapkan keinginan untuk melamarnya, tiba-tiba saja harus pergi meninggalkannya, aku melihat ada semangat tersendiri yang ia dapat dari Wahdi, namun Wahdi mengambil suatu keputusan untuk tidak berhubungan lagi dengannya dan mengurunkan niatnya untuk melamar Alya,
“ Wahdi, tau semua semua wa, aku gak tahu mau gimana, dia tahu semua cerita tentang keluargaku.” Ungkapnya.
Akupun tersentak,karena aku tahu ada banyak cobaan hidup yang dialami Alya selama ini tentang ibunya yang berubah seratus delapan puluh derajat dari ibunya yang dulu, ibunya lebih memilih untuk nikah lagi dengan seorang pria yang umurnya pun seumuran Alya, semua peninggalan ayahnya habis tanpa sisa karena pria itu, apa ada ibu seperti itu...namun itulah kenyataannya, Alya lebih memilih untuk minggat dari rumah itu, karena dia tidak bisa melihat sosok anak ingusan itu menjadi pengganti ayahnya, ditambah lagi dua adik perempuannya yang dahulu lebih memilih untuk tinggal dengan ibunya harus menanggung malu menjadi ibu muda akibat pergaulan bebas mereka selama ini, hancur sudah masa depan kedua adiknya, aku tahu bagaimana dulunya Alya meyakinkan kedua adiknya untuk tinggal bersamanya di rumah ini, dan meyakinkan mereka jika Alya sanggup membiayai mereka. Namun apalagi hendak dikata semua sudah terlanjur terjadi,ibu dan adiknya terlanjur mendapatkan predikat buruk dilingkungan rumahnya, dan Alya adalah seorang gadis tegar yang pernah kukenal, dibalik keceriaannya selama ini terdapat cobaan berat yang harus dipikulnya sendiri. Aku tak bisa membayangkan andai ini terjadi padaku, karena aku tahu betul siapa aku, sedikit masalah saja sudah membuat ku merasa sebagai makhluk tuhan paling sexy dia muka bumi ini, eh...makhluk tuhan paling sedih masksudnya.
Sebenarnya tak ada keinginan Alya untuk menutupi semua aib ini dari Wahdi, hanya saja Alya ingin mencari waktu yang pas untuk bercerita soal ini ke Wahdi, maklum saja sebelum Wahdi ada beberapa pria yang pernah menaruh hati padanya namun kesemuanya mundur teratur saat Alya bercerita soal latar belakang keluarganya, dan ternyata Wahdi juga seorang pria yang jelas-jelas mundur dari Alya, dia tidak menginginkan seorang gadis dari latar belakang seburuk itu, aku diam dan menahan air mataku yang hampir jatuh dihadapannya. Begitu berat cobaan yang ia hadapi, Namun sebagai temannya aku berusaha menguatkan hatinya, dan memberi semangat lagi padanya, kuyakinkan dia bahwa itu mungkin yang terbaik buatnya, ada hikmah dibalik ini semua dan pasti tuhan punya rencana lain untuknya, yah kurang lebih aku kelihatan seperti seorang motivator handal dihadapannya, walau aku yakin-seyakin yakinnya, toh aku juga tak mungkin bisa seperti yang aku katakan.
“ Ayolah Alya, ngapain nangis masalah yang semalam-semalam gak pernah ditangisin seperti ini, “ Ungkapku.
Walau aku tahu ada batasnya seorang gadis biasa itu tegar, dan adakalanya dia mungkin tidak kuat lagi untuk menanggung kesedihan yang ia hadapi, tapi...akh...aku tak bisa menunjukkan kesedihan ku padanya.
Semenjak dia melimpahkan segala beban yang ada dipikirannya kepadaku, dia kembali seperti Alya yang kukenal dulu, walau terkadang aku melihat dia sedikit agak menutup diri dengan pria yang berusaha mendekatinya,pernah aku berfikir untuk menjodohkannya dengan sepupuku tapi aku juga tidak bisa menjamin si sepupuku ini bisa menerima dia apa adanya, entahlah aku pun tak bisa berbuat apa-apa untuk dia, tapi entah mengapa aku tetap ingin tahu semua tentang sahabatku yang satu ini karena aku terlanjur sayang padanya dan akupun sudah terlanjur menganggapnya seperti kakakku sendiri, karena selama dirumah ini dialah orang yang selalu ada buatku, dan aku tahu persis kebaikan hatinya padaku, bagaimana ia memperlakukanku seperti adiknya sendiri,
Sekarang dia lebih banyak menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya sebagai advisor di sebuah perusahaan yang bonafit, dan sibuk dengan LSM nya, yah....semenjak kejadian itu aku melihat dia berusaha penuh menyibukkan hari-harinya dengan bekerja dan dan mendedikasikan dirinya di LSM yang banyak membantu anak-anak pengemis untuk bersekolah, yah..sebuah pekerjaan yang mulia tentunya, hampir tidak ada waktunya untuk sekedar duduk-duduk lagi paling tidak diberanda rumah, tak jarang kulihat pekerjaan kantornya pun ia bawa ke rumah, padahal dulu pantang baginya untuk membawa sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan kerumah.
Hingga suatu ketika, Alya bercerita padaku tentang seorang pria yang berusaha mendekatinya, pria itu bernama Azis bekerja sebagai sekaligus pimpinan di LSM tempatnya mendedikasikan diri, namun sepertinya tetap saja dia tidak mengiraukannya,walau aku mengungkapkan keinginanku agar dia kembali membuka hati bagi orang lain, tapi sepertinya dia terlanjur trauma pada kisah-kisahnya terdahulu, seiring waktu akhirnya akupun mengenal Azis karena ia sering bermain kerumah sekedar bertatakrama dengan Alya, entah karena aku begitu perhatian pada Alya atau mungkin karena aku takut hatinya tersakiti lagi, membuat aku ingin tahu siapa Azis itu sebenarnya,bagaimana dia, namun tanpa aku harus berusaha mendekati dia, ternyata dia juga berusaha mendekatiku, dia menanyakan semua tentang Alya kepadaku...dan akupun ingin tahu apakah dia sungguh-sungguh pada Alya, akhirnya kuputuskan untuk menceritakan semua tentang Alya padanya termasuk masalah keluarganya, aku melihat Azis kaget dan tidak pernah menyangka Alya punya keluarga seperti itu, namun kudapati jawaban dari Azis
“O, jadi itu masalahnya kenapa selama ini Alya selau menghindar jika aku berusaha dekat dengannya, jujur aku gak peduli wa dengan semua itu, apapun masa lalu Alya dan bagaimanapun buruknya, toh yang aku tahu Alya gadis yang baik dan mandiri. “
Sungguh lega rasanya mendapat jawaban seperti itu, sikap Azis mengingatkanku pada sebuah lirik lagu dangdut terkenal yang bunyinya kurang lebih seperti ini “Tidak semua..laki-laki....i....”eh,,,,stop koq aku malah olah vokal.
Sebenarnya Alya pun menaruh hati padanya,bagaimana tidak Azis adalah seorang pria mapan, dan tahu betul soal agama, dia menyenangkan dan baik...itulah yang kutahu dari Alya. Akhirnya aku yakin pada Azis dan secara perlahan menceritakan soal ini kepada Alya. Alya pun kaget dan tidak menyangka aku bertindak sejauh ini untuknya,
“Apa-apaan sih wa, ngapain coba kamu harus ngelakuin itu semua”
Akupun berusaha meledeknya “hmm,,,benar nih gak mau diurusin, senang ajah udah,, ada pelangi tuh dimatamu Al, “. Kataku meledeknya
Alya pun berlari mengejarku dan kudapati kembali tawanya yang hampir hilang, sekarang semuanya sudah terjawab dengan jawaban yang begitu manis. Benar dugaanku selama ini, ada rahasia indah untuk Alya, untuk seorang gadis yang selalu berusaha tegar ditengah rumitnya permasalahan hidup.
Hari ini aku melihat Alya meraih kebahagiannya dengan seorang pria kiriman tuhan, aku yakin ini pria pilihan buat Alya, dan aku tidak pernah menyangka ternyata Azis juga merangkul ibu Alya yang datang memohon untuk diterima lagi oleh Alya, Alya menerima ibunya kembali karena dia sadar setebal apapun kekesalannya pada ibunya, sebesar apapun kekecawaannya, toh wanita yang hampir tua renta itu adalah orang yang pernah melahirkannya kebumi ini,dan soal pertalian darah adalah soal yang penting untuk terus dijaga, kali ini aku benar-benar mendapatkan pelajaran berharga lagi, bahagia jika bisa tulus untuk menerima seseorang apa adanya, dan berusaha memaafkan kesalahan orang lain walau sepahit apapun itu,karena tiada daya kita untuk tidak saling memaafkan ...toh Tuhan saja Maha pengasih, dan maha pemberi maaf...kenapa kita yang manusia biasa saja terkadang sulit untuk melakukan itu semua.......
Sekarang Alya bahagia dengan kehidupannya, tinggal di sebuah rumah yg mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, Azis benar-benar memberikan kebahagiaan buat Alya dan keluarganya.
tapi sekarang, disini, dirumah mini ini, cuma ada aku, sebenarnya sih Alya juga sudah mengajakku untuk tinggal bersama-sama dengannya, Azis dan ibunya... tapi tidak, cukuplah sudah Aku bergantung pada Alya selama ini, aku juga ingin mandiri seperti Alya , dan berusaha bisa kuat menjalani semua tanpa Alya, tapi mohon maaf dulu nih tetap saja harus ada kawan lain buat aku dirumah ini, soalnya aku juga gak berani jika harus tidur sendirian apalagi harus memasak-masakan ku sendiri, paling tidak aku bisa dapat teman pengganti seperti Alya lah...hahahahaha
Langganan:
Komentar (Atom)